Bahaya Onani Atau Masturbasi Dan Cara Menghindarinya

Jumal Ahmad

Dari pembahasan sebelumnya tentang hukum onani atau masturbasi kita telah menyimpulkan bahwa hukumnya haram dalam Islam dan telah menyalahi fitrah manusia karena Allah swt telah memberikan jalan yang benar lewat  jalur pernikahan yang sah. Dan lagi perbuatan ini tidak pernah dilakukan oleh hewan sekalipun. Dalam bahasa Arab, istilah masturbasi dikenal dengan nama A’adah Assariyyah atau kebiasaan yang tersembunyi; disebut demikian karena mayoritas pelakunya melakukan ‘aksinya’ secara sembunyi-sembunyi tanpa diketahui orang lain, seperti di kamar mandi atau di kamar tidur dan tempat lainnya yang  menurut persangkaannya tidak dilihat oleh manusia.

Lihat pos aslinya 2.220 kata lagi

Dipublikasi di Karya tulis ilmiah | Meninggalkan komentar

Sultan Arya Kencana

Sultan Arya Kencana

Karya: Muhammad Masyhudul Haq

Langit terlihat sangat gelap, angin berhembus sangat kencang, hujan turun begitu deras. Jelas sekali dalam keadaan seperti ini akan menciutkan mental seseorang untuk melakukan pelayaran. Namun berbeda dengan Sultan Arya Kencana yang tidak akan membatalkan niatnya demi melakukan sebuah penyerangan kepada sebuah kota yang telah dilengkapi pelindung yaitu sebuah benteng yang tegak berdiri dan sebuah parit yang dalamnya sepuluh meter yang jelas sekali akan menenggelamkan seorang tentara yang kekar dan tinggi sekalipun. Semua pelindung ini demi menyerang mental seorang tentara musuh,”kota yang paling kuat pertahanannya” inilah gelar yang ditujukan kepada sebuah ibu kota Frank. Namun berbeda dengan sultan Arya Kencana yang sejak kecil selalu dilatih mentalnya. Didalam hatinya tertanam kata-kata “hidup mulia atau mati syahid”. Sultan Arya kencana adalah anak dari seorang raja yang bernama Sultan Mahmud. Dari sejak kecil sudah memiliki kepribadian yang mulia. Jarang beliau berbuat kejahatan. Bahkan beliau sama sekali tidak meminum minuman Keras. Dari akhlaknya dan juga cara bicaranya sudah mencerminkan kepribadiannya yang baik, selain akhlaknya yang sangat mulia, dalam hal keagamaannya beliau selalu di bimbing oleh syaikh-syaikh yang sangat paham dalam hal agama untuk mengingat kan kepada Sultan Arya Kencana tentang betapa pentingnya kita patuh terhadap ajaran agama Islam. Pada umur tujuh belas tahun tepat pada saat menginjak ke dewasaannya beliau dilatih oleh ayahnya dalam berperang, ayahnya menyuruh seorang komandan pasukan yang terbaik yang dia punya agar mengajari anaknya menjadi seorang yang ahli dalam berperang. Beliau tidak pernah mengeluh ketika mendapat hukuman, mungkin tak selayaknya anak dari seorang raja mendapatkan hukuman-hukuman yang begitu berat, akan tetapi beliau tidak pernah memandang derajat-derajat seseorang bahkan beliau memiliki banyak teman yang umumnya anak-anak miskin yang tidak mampu. Dua tahun kemudian setelah Beliau belajar dalam peperangan, lalu Ia dipanggil oleh ayahnya dan di suruhlah sultan Arya kencana itu untuk berperang secara spontan. sultan Arya kencanamerasa kaget karena dia berfikir bahwa dia hanyalah anak kecil yang baru menginjak umur sembilan belas tahun, apakah umurnya itu cukup untuk berperang?. “Wahai ayah handa, tidaklah pantas bagi hamba untuk melakukan peperangan di usia hamba yang sekarang, hamba masih belum memiliki pengalaman apapun dalam berperang” raden Arya kencana merasa takut, karena ini adalah hari pertamanya beliau mendapatkan tugas dalam berperang. “wahai anakku, aku ingin engkau kelak menjadi pengganti ku, oleh karena itu ayah ingin engkau memiliki pengalaman yang cukup dalam melakukan peperangan”. Sultan Arya kencana akhirnya mengerti mengapa ayahnya begitu memperhatikan dan begitu sungguh-sungguh dalam melatih kedisiplinan Dan melatih mentalnya agar tidak gempar walau menghadapi seratus ribu tentara sekalipun. Butiran embun yang segar ditemani oleh suara kicau burung yang merdu dan sorotan sang surya yang menyilaukan melengkapi suasana pagi yang sangat cerah. Pada saat itu para tentara dan tentunya sultan Arya kencana sendiri sedang sibuk mempersiapkan diri untuk melakukan peperangan melawan suku barbar yang mana mereka adalah musuh dari kerajaannya yang bersekongkol dengan kerajaan Frank yaitu musuh utama dari kerajaan sultan Mahmud. Kala itu sultan Arya Kencana sadar bahwa dalam peperangan itu nyawalah yang di pertaruhkan, Ia membayangkan jikalau sebuah pedang melesat kencang untuk mencabik, menggorok, mencingcang beliau, hal yang harus di lakukan adalah menghindar atau dengan menyerangnya dengan kecepatan yang lebih tinggi dari ayunan pedang lawannya. Kala itu Ia mendatangi seorang yang paling di anggap mulia oleh dirinya yaitu seorang yang telah melahirkannya ke dunia ini. Benar, seorang ibu yang sangat mulia. “wahai ibunda, do’akan hamba agar hamba menang dalam peperangan Dan agar hamba bisa menemui kembali sosok yang paling mulia di kehidupan hamba ini yaitu engkau wahai ibunda” setetes air menetes dari mata beliau yang kala itu beliau sedang mencium tangan ibunya. “berdirilah wahai anakku, ibu Akan selalu mendo’akanmu insya Allah do’a ibu akan di kabulkan oleh Allah” dan pada saat itu pula ibu sang sultan mencium keningnya dan sama-sama saling meneteskan air mata. Seusai beliau meminta do’a dari seorang yang telah melahirkannya saatnya skrg Ia berangkat bersama tentara gagah berani untuk menghadapi suku barbar yang berada di bukit ozon. Dengan di temani panglima perang, sultan Arya kencana meliahat bagaimana sang panglima menyusun strategi agar mendapatkan suatu kemenangan yang gemilang. Sang panglima membagi dua pasukan yaitu pasukan garis depan dan pasukan Cavalery dan menyusun strategi agar pasukan Cavalery menyerang pasukan babar dari belakang melewati belakang bukit yang mana harus melewati sungai yang sangat deras airnya. Akhirnya pun tiba, semua pasukan saling berhadap-hadapan untuk saling menyerang, sang komandan memerintahkan pasukan garis depan untuk menyerang pasukan barbar. Perang pun pecah, setiap orang berlomba membunuh lawan-lawannya termasuk juga sang sultan, beliau memperlihatkan seni beladiri yang telah Ia pelajari selama dua tahun lamanya. Pasukan cavalery mulai bergerak, masing masing punya tehnik tersendiri dalam menyebrangi sungai yang arusnya sangat deras. Ketika sampai pasukan cavalery berada di belakang pasukan musuh, langsung saja pasukan cavalery menyerangnya dari belakang maka pasukan musuh terdesak, mendapat perlawanan dari dua arah karena sangatlah sulit bertahan dengan mendapat tekanan dari dua arah, Dan karena pasukan barbar tidak dapat menahan lagi, maka mereka kocar kacir, mencari tempat persembunyian dan perlindungan. Kemenangan pun di raih oleh sang sultan, sultan Arya Kencana berhasil membunuh tiga belas orang tentara musuh akan tetapi beliau terluka pada bagian kakinya karena tersayat pedang musuh. Para pasukan sangat bahagia karena mendapatkan kemenangan yang gemilang, dan melaporkannya kepada raja tak tertahankan lagi sang bunda yang melihat anaknya kembali dengan selamat menyambut kedatangannya dan memeluknya erat-erat sambil mengucapkan rasa syukur kepada Allah yang telah menyelamatkan anaknya. Sultan mahmudpun mengadakan pesta dengan mensedekahkan hartanya kepada masyarakat sebagai bentuk syukur atas kemenangan yang gemilang ini. Waktupun berlalu sangat cepat, sultan Arya Kencana telah menginjak usia yang ke dua puluh Lima tahun. Telah banyak sekali pengalaman-pengalaman perang yang beliau hadapi. Beliau terus berperang dengan suku barbar yang hasilnya selalu sangat memuaskan. Dan pada akhirnya suku barbar kehilangan sebagian besar daerah-daerah kekuasaannya. Mereka terdesak dan semakin terdesak. Tak terasa daerah mereka hanya tinggal satu wilayah lagi, mereka merasa cemas, takut, gelisah dan berfikir “inilah akhir dari suku barbar”. Pasukan sultan berbaris dengan rapi di depan benteng yang tegap yang dijaga oleh para pemanah Dan para infanteri yang ahli dalam peperangan. Kali ini sang sultanlah yang memipin pasukan yang sekaligus memberi komando dan menyusun strategi yang akan membobolkan benteng yang super kuat itu. Tak lupa sang sultan melakukan sholat malam demi memohon kepada Allah agar di sukseskan dalam menaklukan daerah terakhir kekuasaan barbar. Karena dengan ditaklukannya daerah barbar bisa menjadi jalan keluar agar dengan mudah menaklukan kerajaan frank, yaitu musuh utama kerajaan sang sultan. “tuanku, apakah tuan mempunyai rencana yang Bagus demi memecahkan pertahanan musuh?” Tanya seorang tentara cavalery”. “Emmm… Prajuritku, apakah ada di antara tembok ini ada yang mungkin sedikit rapuh?” jawab sang sultan sambil berfikir, “kami berhasil mengambil informasi bahwa tembok benteng yang berada di sebelah selatan terlihat lebih kusam Dan terlihat sedikit rapuh di banding tembok lain” jawab prajurit cavalery, “segera siapkan manjanik dan catapult!! Kita runtuhkan tembok yang berada di sebelah selatan!”perintah sang sultan, Serentak seluruh pasukan bergerak menyiapkan manjanik yang akan membobol beteng yang kokoh tersebut. Setiap manjanik catapult di beri peluru batu yang sangat berat yang nantinya akan menghancurkan Apa-Apa yang ada di depannya. Tetapi sultan berfikir bahwa batu yang ukurannya hanya sebesar dua genggam tangan orang dewasa bisa menghancurkan tembok yang sangat besar, apalagi jika ukuran batu tersebut di tambahkan ukurannya maka akan lebih dahsyat kekuatannya. “prajuritku, segera buatkan untukku manjanik Dan catapult yang ukurannya lebih besar dari manjanik dan catapult biasa dan segera buatkan amunisi yang lebih besar juga!” perintah sultan, “baik laksanakan!”. Secara serentak seluruh prajurit logistik segera membuat manjanik dan catapult yang besar, yang ukurannya besar. Ketika ditembakan peluru dari manjanik tertsebut maka terdengar suara yang menggelegar dahsyatnya, peluru besar dari manjanik besar itu menghancurkan sebagian besar dari benteng tersebut sehingga mudah untuk dimasuki dan diserang tentara sultan. Maka dengan bersegera sultan memerintahkan kepada tentara garis depan untuk masuk dan menyerang ke dalamnya. Seluruh tentara berlari, ketika memasuki benteng tersebut mereka di sambut oleh serangan dari dalam, pertempuranpun akhirnya pecah, banyak di antara tentara-tentara sultan yang mati di medan perang, akan tetapi dengan penuh semangat akhirnya tentara sultan bisa menekan masuk terus ke dalam hingga ditangkaplah raja dari suku barbar tersebut. Para tentara sangat gembira, dan ketika informasi sampai kepada sultan mahmud, sultan mahmudpun merasa bangga kepada anaknya Dengan seiring berjalannya waktu, sultan Mahmudpun jatuh sakit. Dan setelah menderita karena sakit yang berkepanjangan, maka sultan Mahmudpun meninggal. Berita meninggalnya sultan Mahmud sampai pada kerajaan Frank. Mereka sangat bergembira sekali dengan berita kematian sultan Mahmud karena mereka menganggap bahwa sultan Mahmud adalah lawan yang paling tangguh, yang sangat memerangi kerajaan Frank. Maka diangkatlah Arya Kencana menjadi sultan menggatikan ayahnya yang mati karena serangat penyakit. Maka kerajaan Frankpun sangat bergembira akan naiknya Arya Kencana menjadi sultan, karena mereka menganggap dia ada anak muda yang rakus yang hobinya hanya hura-hura, padahal rakyat kerajaan sultanpun mengaggap bahwa sultan adalah anak yang baik, berakhlak mulia dan hidupnya yang sederhana, dan dia pula yang nantinya akan menaklukan seluruh kerajaan Frank. Waktu terus berjalan, akhirnya peperangan antara Frank Dan sultan Arya Kencanapun akan di mulai. Sang Sultan membangun pasukan elite khusus yaitu pasukan cavalery yang mana sang sultan memberikan pelajaran-pelajaran penting kepada mereka tentang prinsipnya yaitu “hidup mulia atu mati syahid” untuk menjadi motivator bagi setiap pasukannya agar berjuang dengan ikhlas dan tidak takut kepada kematian. Pohon melambai-lambaikan rantingnya seakan dia menjadi saksi sejarah pertempuran antara pasukan sultan dan pasukan Frank. Mereka mulai berhadap-hadapan dan setuju perang akan di awali dengan adu pasukan terbaik. Dari Frank muncul seorang yang kekar besar dan menakutkan, dari sultan muncul seorang yang ideal, sedang, dan wajahnya terlihat biasa saja. Dimulai lah pertarungan prajurit terbaik, keduanya memperlihatkan seni beladiri yang sangat menakjubkan, mereka terus menerus menghembuskan pedangnya dan menghindar. Prajurit dari Frank mengandalkan kekuatannya, tetapi prajurit dari sultan menggunakan tenaga juga fikirannya, dan akhirnya prajurit dari Frank tergorok oleh prajurit dari pihak sultan. Dan pertempuranpun terjadi, mereka saling membeladiri mereka dan saling berlomba membunuh lawannya. Pada awalnya pasukan sultan Arya Kencana tertekan mundur, akan tetapi setelah mereka meneriakan secara serentak “allahu akbar” semangat mereka menggelegar, pasukan sultan berhasil memukul mundur pasukan Frank dan akhirnya pasukan Frank kocar-kacir bagai hewan yang tersesat tidak tau arah. Maka pasukan Sultan pulang dengan gembira, meraih kemenangan yang gemilang. Detik demi detik, jam demi jam, hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, waktu tidak terasa. Banyak wilayah-wilayah Frank yang diambil alih oleh kerajaan Sultan. Dan pada akhirnya hanya satu wilayah saja yang tersisa yang mana ini menjadi wilaya terpenting bagi kaum Frank. Ya sebuah kota Frank yang dilindungi benteng yang besar serta parit yang dalam yang sangat menakjubkan. Cuaca pada hari itu sangat buruk. Terjadi badai dilautan. Tetapi hal. Ini tidak menjadi masalah bagi sultan yang memang telah merencanakan secara matang dalam penaklukan ini. Sultan segera menaiki perahu Dan berlayar ke kota terpenting Frank tersebut. Sesampainya di pantai sultan melihat dan menselidiki bagaimana cara untuk mengubur parit yang dalamnya sepuluh meter tesebut. Dan ternyata sultan sangat pintar. Jikalau benteng itu diruntuhkan maka secara otomatis batu-batu dari benteng itu akan menumpuki parit-parit dan akhirnya dapat di pijak oleh para tentara. Maka dikumpulkanlah para prajurit logistik untuk membuat banyak catapult dan manjanik untuk bisa merobohkan benteng yang super kokoh itu. “siapa!!! Tembak!!” perintah sang Sultan, maka melayanglah batu-batu besar dan alhasil benteng tersebut roboh dan parit tersebutpun sudah terisi dengan benda-benda padat dari benten itu. Mulai lah bergerak pasukan garis depan untuk memporakporandakan pasukan Frank. Pasukan Sultan terus menekan dan menekan. Dan akhirnya pasukan Frank menyerah dan Frankpun terhapus dari catatan kerajaan yang ada di seluruh dunia. Tak ada lagi permusushan, tak ada lagi peperangan. Inilah yang sedang dialami sultan dan rakyatnya. Hidup dengan damai dan pada akhirnya “kerajaan yang paling tentram” inilah gelar yang dikatakan oleh seluruh orang yang ada di dunia.

Dipublikasi di cerpen | Meninggalkan komentar

Bottle of Boos

Nick Momrik

20131012-213534.jpg

One of Mom’s Halloween decorations. Clever!

Lihat pos aslinya

Dipublikasi di Karya tulis ilmiah | Meninggalkan komentar

Chronology of Tanjung Priok tragedy Eyewitness Bloody 1984 by Ust. Abdul Qadir Djaelani

Chronology of Tanjung Priok tragedy Eyewitness Bloody 1984 by Ust. Abdul Qadir Djaelani

Abdul Qadir Djaelani is one of the scholars who were accused by the authorities as one of the masterminds of Tanjung Priok incident. Therefore, he was arrested and put in jail. As a scholar and public figure Tanjung Priok, in a chronology of events he knew Tanjung Priok. Here are excerpts of the testimony of Abdul Qadir Djaelani the Tanjung Priok incident 12 September 1984, which is written in defense exception entitled “Enemies of Islam Conduct Attack on Indonesian Muslims”.

Tanjung Priok, Saturday, September 8, 1984

Two officers Koramil (non-commissioned officer) without open shoes, entered the mosque as-Sa’adah in alley IV Koja, Tanjung Priok, North Jakarta. Those announcements flush-mounted wall mosque with sewer water (sewer). Announcement of the invitation was just a teen study Islam (mosques) in Jalan Sindang. Tanjung Priok, Sunday, 9 September 1984 Events on Saturday (8 September 1984) at the mosque as-Sa’adah became public talks without any effort from the authorities to offer penyelesaan the congregation of the Muslims. Tanjung Priok, Monday, September 10, 1984 Several members of the mosque as worshipers-Sa’adah ran into one of the officers who fouled Koramil their mosque. An argument erupted that eventually dilerai mouth by two men from Baitul Makmur Mosque congregation who happened to pass by. They suggested that all parties requested mediation RW, accepted. While efforts penegahan sedang.berlangsung, people who are not responsible and had nothing to do with the problem, burn it Koramil motorcycle officer. District Military Command, who requested assistance by Koramil, sent an army and immediately make arrests. 4 people joined worshipers caught, of whom including the Chairman as-Sa’adah mosque.

Tanjung Priok, Tuesday, September 11, 1984

Amir Biki contact the relevant authorities to request the release of four men who were detained by the District Military Command pilgrims, who believed in his innocence. Amir Biki role need not be surprising, because as one of the leaders of post 66, he was the one who believed all concerned parties to arbitrate if there is a problem between the rulers (military) and society. Amir Biki attempt to ask for justice proved futile.

Tanjung Priok, Wednesday, September 12, 1984

In such a challenging environment, study shows teens Sindang Islam in Jalan Raya, which was planned long before the mosque incident as-Sa’adah, also continued. The lecturer was not included Amir Biki, who did not preachers and does not ever want to climb the pulpit. However, against the backdrop of a series of events in the previous days, the congregation urged him to ascend the pulpit sermons and giving instructions. On the occasion of the speech, said Amir Biki, among others, “Let us prove solidarity Islamiyah.

We ask our friends who were detained in the District Military Command. They are not guilty. We protest job elements ABRI’s irresponsible. We reserve the right to defend the truth even though we bear the risk. If they are not exempt then we must protest. “Furthermore, Amir Biki said,” We should not ruin anything! If adayang damage in the middle of the trip, meaning it’s not our group (which is not, and our congregation). “When the pilgrims set off study is divided in two: part towards the police station and partly to the District Military Command.

After arriving at the police station, about 200 meters away kia, there has been intercepted by military forces in a war dressed posse position with automatic weapons in hand. Arriving pilgrims recitation to that place, the military heard shouting, “Backward-retreat!” Shouts “retreat-retreat” was welcomed by the congregation yelled, “Allahu Akbar! Allahu Akbar! “When the military took two steps, then spewing automatic weapons with the goal of teaching the pilgrims who were in front of them, for about thirty minutes. Recitation and lay worshipers screaming hysterically; several hundred Muslims fell into a martyr. In fact, there are military members who shouted, “Fuck! The bullet discharged. The dogs are still a lot! “More cruel still, they are not dead yet kicked-kick and if it is still moving then shot another to death.

Not long after came the big two-wheeler truck in ten high-speed full force. Of the big truck that spewed bullets and automatic weapons to target the pilgrims who were crouching and hiding in the roadside. Even more terrifying, big truck was running in the current study worshipers get down on the highway, crushing those who have not been shot or shot, but have not had time to get away from the highway that passed by the truck. Screams and the sound of broken bones and crushed cars run over by a large truck terdengarjelas by Muslim pilgrims got-got/selokan-selokan which lay on the side of the road.

After that, large trucks that stop and get off the militaries to take the bodies writhing and threw it into the truck, throw a burlap sack like it. Two big truck full of dead bodies or people who have been shot are arranged like a burlap sack.

After a large truck filled with corpses of pilgrims recitation was gone, not long after came the ambulances and fire trucks were on duty flush and cleanse the blood-the blood on the highway and on the sides, until clean.

Meanwhile, a group of pilgrims to the District Military Command study led by Amir Biki. Kirajarak about 15 meters from the office of District Military Command, congregational recitation intercepted by the military to not go on, and that may go on only 3 of pilgrims led the study, of whom Amir Biki. Once the distance is approximately 7 meters of office District Military Command, led the congregational recitation 3 was sprayed with bullets coming out of the military automatic weapons are confronting. The three men led the pilgrims fell down floundered. Seeing the incident, the recitation of pilgrims waiting in the back while sitting, to panic and they stood up to run away, but was greeted by a bullet shot automatically. Dozens of worshipers recitation fell down into a martyr. According Yusron your memory, when he and the bodies were thrown into a military truck and 10-wheeler was, roughly 30-40 bodies in it, which is then brought to the Gatot Subroto Army Hospital (formerly Army Hospital).

Arriving at the hospital, the bodies were immediately taken to the morgue, including Yusron brother. In case of piles with the bodies in the morgue, Yusron brother yelling for help. EMTs came and lifted Yusron brother to be moved to another place.

Actually pilgrims massacre at Tanjung Priok recitation should not occur if PanglimaABRI / Commander Gen. LB Murdani Kopkamtib really want to try to prevent it, especially Kopkamtib parties who have often boasted to the media that it is capable of detecting an event as early and as early as possible. This is because on September 11, 1984, when I was examined by the Jakarta police Kingdom, I had a conversation with Colonel Ritonga Police, the Police Chief of Intel where he states that worshipers study in Tanjung Priok demanding the release of four of his colleagues were detained, due to burn out the motor officer. In fact, according to task force officers Intel Jaya, at the time I was arrested on 13 September 1984, stated that on September 12, 1984, approximately 10:00 in the morning. Amir Biki had come to the office of the Task Force Intel Jaya.

(Source: Bloody Books Tanjung Priok, Responsibility Who: Facts and Data set, Yogyakarta: Gema Insani Press via http://olgariki.multiply.com)

requested for the share, this is an important event to motivate generations of Muslims to be more active in preaching, to command the good and forbid the evil, hopefully you sharean useful insha allah. aamiin ….

Dipublikasi di Dakwah | Meninggalkan komentar

mengingatkan kembali pristiwa pembantaian muslim di tanjung priok

Kronologi Tragedi Tanjung Priok Berdarah 1984 oleh Saksi Mata Ust. Abdul Qadir Djaelani

Abdul Qadir Djaelani adalah salah seorang ulama yang dituduh oleh aparat keamanan sebagai salah seorang dalang peristiwa Tanjung Priok. Karenanya, ia ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Sebagai seorang ulama dan tokoh masyarakat Tanjung Priok, sedikit banyak ia mengetahui kronologi peristiwa Tanjung Priok. Berikut adalah petikan kesaksian Abdul Qadir Djaelani terhadap peristiwa Tanjung Priok 12 September 1984, yang tertulis dalam eksepsi pembelaannya berjudul “Musuh-musuh Islam Melakukan Ofensif terhadap Umat Islam Indonesia”.

Tanjung Priok, Sabtu, 8 September 1984

Dua orang petugas Koramil (Babinsa) tanpa membuka sepatu, memasuki Mushala as-Sa’adah di gang IV Koja, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Mereka menyiram pengumuman yang tertempel di tembok mushala dengan air got (comberan). Pengumuman tadi hanya berupa undangan pengajian remaja Islam (masjid) di Jalan Sindang. Tanjung Priok, Ahad, 9 September 1984 Peristiwa hari Sabtu (8 September 1984) di Mushala as-Sa’adah menjadi pembicaran masyarakat tanpa ada usaha dari pihak yang berwajib untuk menawarkan penyelesaan kepada jamaah kaum muslimin. Tanjung Priok, Senin, 10 September 1984 Beberapa anggota jamaah Mushala as-Sa’adah berpapasan dengan salah seorang petugas Koramil yang mengotori mushala mereka. Terjadilah pertengkaran mulut yang akhirnya dilerai oleh dua orang dari jamaah Masjid Baitul Makmur yang kebetulan lewat. Usul mereka supaya semua pihak minta penengahan ketua RW, diterima. Sementara usaha penegahan sedang.berlangsung, orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan tidak ada urusannya dengan permasalahan itu, membakar sepeda motor petugas Koramil itu. Kodim, yang diminta bantuan oleh Koramil, mengirim sejumlah tentara dan segera melakukan penangkapan. Ikut tertangkap 4 orang jamaah, di antaranya termasuk Ketua Mushala as-Sa’adah.

Tanjung Priok, Selasa, 11 September 1984

Amir Biki menghubungi pihak-pihak yang berwajib untuk meminta pembebasan empat orang jamaah yang ditahan oleh Kodim, yang diyakininya tidak bersalah. Peran Amir Biki ini tidak perlu mengherankan, karena sebagai salah seorang pimpinan Posko 66, dialah orang yang dipercaya semua pihak yang bersangkutan untuk menjadi penengah jika ada masalah antara penguasa (militer) dan masyarakat. Usaha Amir Biki untuk meminta keadilan ternyata sia-sia.

Tanjung Priok, Rabu, 12 September 1984

Dalam suasana tantangan yang demikian, acara pengajian remaja Islam di Jalan Sindang Raya, yang sudah direncanakan jauh sebelum ada peristiwa Mushala as-Sa’adah, terus berlangsung juga. Penceramahnya tidak termasuk Amir Biki, yang memang bukan mubalig dan memang tidak pernah mau naik mimbar. Akan tetapi, dengan latar belakang rangkaian kejadian di hari-hari sebelumnya, jemaah pengajian mendesaknya untuk naik mimbar dan memberi petunjuk. Pada kesempatan pidato itu, Amir Biki berkata antara lain, “Mari kita buktikan solidaritas islamiyah.

Kita meminta teman kita yang ditahan di Kodim. Mereka tidak bersalah. Kita protes pekerjaan oknum-oknum ABRI yang tidak bertanggung jawab itu. Kita berhak membela kebenaran meskipun kita menanggung risiko. Kalau mereka tidak dibebaskan maka kita harus memprotesnya.” Selanjutnya, Amir Biki berkata, “Kita tidak boleh merusak apa pun! Kalau adayang merusak di tengah-tengah perjalanan, berarti itu bukan golongan kita (yang dimaksud bukan dan jamaah kita).” Pada waktu berangkat jamaah pengajian dibagi dua: sebagian menuju Polres dan sebagian menuju Kodim.

Setelah sampai di depan Polres, kira-kia 200 meter jaraknya, di situ sudah dihadang oleh pasukan ABRI berpakaian perang dalam posisi pagar betis dengan senjata otomatis di tangan. Sesampainya jamaah pengajian ke tempat itu, terdengar militer itu berteriak, “Mundur-mundur!” Teriakan “mundur-mundur” itu disambut oleh jamaah dengan pekik, “Allahu Akbar! Allahu Akbar!” Saat itu militer mundur dua langkah, lalu memuntahkan senjata-senjata otomatis dengan sasaran para jamaah pengajian yang berada di hadapan mereka, selama kurang lebih tiga puluh menit. Jamaah pengajian lalu bergelimpangan sambil menjerit histeris; beratus-ratus umat Islam jatuh menjadi syuhada. Malahan ada anggota militer yang berteriak, “Bangsat! Pelurunya habis. Anjing-anjing ini masih banyak!” Lebih sadis lagi, mereka yang belum mati ditendang-tendang dan kalau masih bergerak maka ditembak lagi sampai mati.

Tidak lama kemudian datanglah dua buah mobil truk besar beroda sepuluh buah dalam kecepatan tinggi yang penuh dengan pasukan. Dari atas mobil truk besar itu dimuntahkan peluru-peluru dan senjata-senjata otomatis ke sasaran para jamaah yang sedang bertiarap dan bersembunyi di pinggir-pinggir jalan. Lebih mengerikan lagi, truk besar tadi berjalan di atas jamaah pengajian yang sedang tiarap di jalan raya, melindas mereka yang sudah tertembak atau yang belum tertembak, tetapi belum sempat menyingkir dari jalan raya yang dilalui oleh mobil truk tersebut. Jeritan dan bunyi tulang yang patah dan remuk digilas mobil truk besar terdengarjelas oleh para jamaah umat Islam yang tiarap di got-got/selokan-selokan di sisi jalan.

Setelah itu, truk-truk besar itu berhenti dan turunlah militer-militer itu untuk mengambil mayat-mayat yang bergelimpangan itu dan melemparkannya ke dalam truk, bagaikan melempar karung goni saja. Dua buah mobil truk besar itu penuh oleh mayat-mayat atau orang-orang yang terkena tembakan yang tersusun bagaikan karung goni.

Sesudah mobil truk besar yang penuh dengan mayat jamaah pengajian itu pergi, tidak lama kemudian datanglah mobil-mobil ambulans dan mobil pemadam kebakaran yang bertugas menyiram dan membersihkan darah-darah di jalan raya and di sisinya, sampai bersih.

Sementara itu, rombongan jamaah pengajian yang menuju Kodim dipimpin langsung oleh Amir Biki. Kira-kirajarak 15 meter dari kantor Kodim, jamaah pengajian dihadang oleh militer untuk tidak meneruskan perjalanan, dan yang boleh meneruskan perjalanan hanya 3 orang pimpinan jamaah pengajian itu, di antaranya Amir Biki. Begitu jaraknya kira-kira 7 meter dari kantor Kodim, 3 orang pimpinan jamaah pengajian itu diberondong dengan peluru yang keluar dari senjata otomatis militer yang menghadangnya. Ketiga orang pimpinan jamaah itu jatuh tersungkur menggelepar-gelepar. Melihat kejadian itu, jamaah pengajian yang menunggu di belakang sambil duduk, menjadi panik dan mereka berdiri mau melarikan diri, tetapi disambut oleh tembakan peluru otomatis. Puluhan orang jamaah pengajian jatuh tersungkur menjadi syahid. Menurut ingatan saudara Yusron, di saat ia dan mayat-mayat itu dilemparkan ke dalam truk militer yang beroda 10 itu, kira-kira 30-40 mayat berada di dalamnya, yang lalu dibawa menuju Rumah Sakit Gatot Subroto (dahulu RSPAD).

Sesampainya di rumah sakit, mayat-mayat itu langsung dibawa ke kamar mayat, termasuk di dalamnya saudara Yusron. Dalam keadaan bertumpuk-tumpuk dengan mayat-mayat itu di kamar mayat, saudara Yusron berteriak-teriak minta tolong. Petugas rumah sakit datang dan mengangkat saudara Yusron untuk dipindahkan ke tempat lain.

Sebenarnya peristiwa pembantaian jamaah pengajian di Tanjung Priok tidak boleh terjadi apabila PanglimaABRI/Panglima Kopkamtib Jenderal LB Moerdani benar-benar mau berusaha untuk mencegahnya, apalagi pihak Kopkamtib yang selama ini sering sesumbar kepada media massa bahwa pihaknya mampu mendeteksi suatu kejadian sedini dan seawal mungkin. Ini karena pada tanggal 11 September 1984, sewaktu saya diperiksa oleh Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya, saya sempat berbincang-bincang dengan Kolonel Polisi Ritonga, Kepala Intel Kepolisian tersebut di mana ia menyatakan bahwa jamaah pengajian di Tanjung Priok menuntut pembebasan 4 orang rekannya yang ditahan, disebabkan membakar motor petugas. Bahkan, menurut petugas-petugas satgas Intel Jaya, di saat saya ditangkap tanggal 13 September 1984, menyatakan bahwa pada tanggal 12 September 1984, kira-kira pukul 10.00 pagi. Amir Biki sempat datang ke kantor Satgas Intel Jaya.

(Sumber: Buku Tanjung Priok Berdarah, Tanggungjawab Siapa: Kumpulan Fakta dan Data, Yogyakarta: Gema Insani Press via http://olgariki.multiply.com)

dimohon untuk di share, ini merupakan pristiwa penting untuk memotivasi generasi muslim agar lebih giat lagi dalam berdakwah, mengombarkan amr ma’ruf nahyi munkar, semoga sharean anda bermanfaat insya allah. aamiin….

Dipublikasi di Dakwah | Meninggalkan komentar

BRAAAAAAW! BRAAAAAW!

JJJ

20130710-114050.jpg

Do do do do do do do do do do do do do do do do.

BRAAAAAAAW!

Lihat pos aslinya

Dipublikasi di Karya tulis ilmiah | Meninggalkan komentar

mengenal lebih dekat Ustadz K.H. Drs. Shiddiq Amin, MBA

Terlahir sebagai Pejuang Islam

  Ustadz Shiddiq, begitu biasa dipanggil, lahir pada 13 Juni 1995. Ia adalah putra keempat dari sebelas bersaudara dari pasangan KH Utsman Amienullah adalah seorang ulama pendiri Pesantren Persatuan Islam 67 Benda, Tasikmalaya. Pesantren Benda-demikian public sering menyebut-berdiri pada 4 Mei 1940. Awalnya pesantren itu hanyalah sebuah majelis taklim yang menggelar pengajian ba’da maghrib. Pesantren ini merekam banyak jejak dakwah Ustadz Shiddiq yang mengelolanya sejak tahun 1976 saat beliau masih saat belia, 21 tahun.

Sejak muda Ustadz Shiddiq sudah memperlihatkan potensi akhlak dan ilmunya. Beliau dikenal dekat dan banyak dipercayai guru-gurunya. KHE. Abdurrahman, gurunya yang juga merupakan mantan ketua umum PP Persis(1962-1983) sering mendelegasikan tugasnya menjawab permintaan fatwa kepada ustadz Shiddiq. Ia memang pengagum Ustadz Abdurrahman dan sejak remaja tak pernah melewatkan pengajian Ustadz Abdurrahman di Tasikmalaya. Waktu sekolah di Bandung pun ia kerap menghadiri ceramah Ustadz Abdurrahman. Asal  mendengarkan Ustadz Abdurrahman pengajian di suatu tempat, ia pasti mengejarnya, termasuk pengajian rutin di mesjid Pajagalan, selepas subuh.

Semangat untuk mengikuti pengajian Ustadz Abdurrahman menunjukan bahwa sejak masih muda, kapasitas dan kapabilitas intelektual Ustadz Shiddiq telah terasah. Berbagai forum keilmuan dan guru mengalirkan ragam pengetahuan slam kepada beliau. Secara pribadi, Ustadz Shiddiq juga memilki tekad dan komitmen kuat untuk menambah pundi-pundi ilmu keislamannya. Ia tak pernah belajar, mengajar ilmu.

Selain itu, Ustadz Shiddiq memiliki kelebihan yang lainnya, yaitu dalam aspek kepemimpinan. Bakat kepemmpinan tampaknya sudah ada dalam diri beliau, sehingga charisma dan aura kepemimpinannya tumbuh dengan sendirinya di mata masyarakat sekitar. Karate dan kepribadiannya memudahkannya untuk membangun hubungan emosional dengan umat. Kekaguman pada diri beliau tumbuh dari berbagai kalangan yang berinteraksi atau yang mendengar ceramah-ceramah agamanya.

Bukan itu saja, ustadz Siddiq juga memilik bakat kepemimpinan dalam artian professional. Kepiawaian dalam memimpin organisasi tampak saat ia dipercayai memimpin organisasi kesiswaan, Rijalul Ghad, di pesantren Persis Pajagalan, Bandung. Tak hanya itu, ia juga dikenal lihai dalam berpidato. Ia mampu menyampaikan dakwah dalam bahasa keumatan. Selain retorika ceramah, materi ilmu yang disampaikan juga berbobot sehingga mampu menyita perhatian umat islam. Setiap Ustadz Shiddiq berceramah audiensnya ribuan seperti yang bisa dilhat di pengajian ahad(jihad), di masjid PP Persis, Viaduct, Bandung. Jamaahnya bahkan bisa datang dari Jakarta dan Jawa Tengah.

Kapabilitas intelektual yang berpadu dengan jiwa kepemimpinan menjadi dua hal yang melengkapi sosok Ustadz Shiddiq. Keduanya berpadu, menjadi poin penting yang mengantarkannya menjadi sosok yang dikagumi secara intelektual dan sukses dalam hal organisasional. Beliau adalah pribadi yang memadai. Sebagai pemimpin umat, Ustadz Shiddiq memiliki kapasita dan kapabilitas yang cukup padu.

Pendidikan “ZIG ZAG”

Menarik sekali jika kita menelusuri pendidikan Ustadz Shiddiq. Kesan pertama yang akan terbersit, bahwa pendidikan yang dijalaninya “berbeda” dengan jalur yang biasa dijalani para putra pemimpin pesantren dan santri dalam tradisi pesantren. Ustadz Shiddiq memiliki peta perjalanan pendidikan yang unik dan mengesankan. Jika ditinjau dalam perspektif yang lebih terang, sebenarnya ini menunjukan betapa visionernya Ustadz Shiddiq sejak masih muda.

Beliau mampu untuk “terbang melampaui” paradigma pendidikan pesantren yang berlangsung selama berpuluh tahun. Beliau kemudian menuruti minat dan bakatnya dalam hal pendidikan, yang meskipun berbeda dengan tradisi pesantren. Namun terbukti akhirnya memberikan manfaat yang besar di kemudian hari. Jenjang pendidikan ini kemudian menjadian Ustadz Shiddiq sebagai sosok dengan wawasan yang luas.

Ustadz Shiddiq sendiri mengaku menjalani jenjang pendidikan yang tak rapi. Ia sekolah SD di pagi hari, dan sekolah Diniyyah di sore hari. Setamat SMU dia malahan mengambil kelas Mu’alimien di Pesantren Persatuan Islam Pajagalan yang jenjang pendidikannya setaraf SMU juga. Tapi itu ternyata cukup berarti member dasar yang kuat pada pengetahuan agamanya. Sementara itu, di tingkat mahasiswa ia mengabil jurusan bahasa Inggris di jenjang vokasi dan sarjana. Setelah lulus, ia kembali banting arah dengan mengambil kelas bisnis di tingkat magister. Arif Rahman Hakim, putra sulungnya, sempat memprotes hal ini karena menganggap ayahnya “tak jelas”.

Ustadz Shiddiq memang sudah keranjngan bahasa Inggris sejak dulu. Ia sampai mengikuti kursus bahasa inggris secara khusus, di samping sekolah formalnnya. Itulah kemudian yang mendorongnya mengambil jurusan bahasa Inggris di Akademi Bahasa Asing (ABA) Yapari dan berhasil menggondong sarjana muda (BA) pada tahun 1977. Sepuluh tahun kemudian gelar diploma itu kemudian ia lengkapi menjadi gelar sarjana dengan kuliah kembali pada tahun 1986. ABA Yapari sejak itu sudah berubah menjadi STBA (Sekolah Tinggi Bahasa Asing) Yapari. Gelar MBA di bidang Sumber Daya Manusia ia raih dari JIMS. Walau tampak “zig zag”, namun semua ilmu yang ia miliki itu tampak sangat berguna dalam kiprahnya memimpin Persis dari tahun 1990 sampai wafatnya tahun 2009.

Yang terang dalam perjalanan hidupnya adalah ia memang di siapkan menjadi seorang pemimpin oleh ayahnya Ustadz Amienullah. Ia bukanlah anak tertua, tapi ia diserahi tanggung jawab mengurus pesantren. Ketiga kakanya ternyata lebih memilih untuk berdagang. Mereka merantau keluar jawa untuk berdagang, sehingga amanat kepemimpinan pesantren diberikan kepada Ustadz Shiddiq. “itulah yang membuat ayah saya terus menarik saya untuk tidak meninggalkan pesantren”, ujarnya.

Uniknya setelah beberapa tahun berdagang, tak ada satu pun dari kakanya yang sukses. Mereka pun mengadukan hal ini kepada ayah mereka. Saat itu, menurut pengakuan Ustadz Shiddiq, ayahnya berujar bahwa memang iya mendo’akan anak-anaknya supaya tak berhasil berdagang. Niat ayahnya baik, agar putra-putrinya bisa mendedikasikan hidupnya untuk kemaslahatan umat. Akhirnya mereka berhenti berdagang dan turut serta menangani pesantren.

Telah banyak kiprah emas yang di torehkan uUstadz Shiddiq. Selain menjadi ketua umum Rijalul Ghad, pada tahun 1976, ia menjadi sekertari pimpinan cabang Persis Cipedes, Tasikmalaya, pada tahun 1977-1984. Pada tahun 1984-1990, Ustadz Shiddiq menjadi ketua Pimpinan Daerah Persis Priangan Timur(Tasik dan Ciamis) dan menjadi ketua bidang jam’iyyah PP Persis (1990-1995) pasca Muktamar X di Garut. Waktu itu ketua umum PP persis adalah Ustadz Latief Muchtar. Ketika Ustadz Latief wafat pada tahun 1997, Ustadz Shiddiq di ganti sebagai penggantinya. Usianya masih terhitung muda pada saat itu yakni 42 tahun. Dialah nakhoda Persis melewati masa pancaroba bangsa di era reformasi.

Sejak tahun 1998, Ustadz Shiddiq diangkat menjadi anggota Dewan Penasihat MUI Pusat. Pada tahun 1999-2004 beliau menjabat anggota MPR RI Fraksi Utusan Golongan. Kemudian pada tahun 2004, atas restu jam’iyyah, beliau maju dalam pencalonan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari Jawa Barat, walau kemudian tak lolos. Sejak tahun 1997, beliau juga menjabat sebagai komisaris utama PT.Karya Imtaq, Bandung dan pemimpin umum majalah Risalah, Bandung. Pada tahun yang sama beliau menjadi Komisaris Utama BPRS Amanah Rabbaniah, Bandung sampai 2000 dan anggota Dewan Syari’ah BPRS Al-Wadiah Tasikmalaya tahun 1998-2000 dan anggota Dewan pengawas Syari’ah Bank BTPN.

Meskipun aktifitasnya sebagai pengajar terfokus di pesantren Benda, akan tetapi beliau pernah tercatat pula sebagai Dosen STAI (Sekolah Tinggi Agama Islam)Persis, Bandung (1995-1997), Dosen Program Bidan Depkes, Tasikmalaya (1994-1997), dan Dosen APKER Depkes, Tasikmalaya (1995-1996). Aktifitas sebagai dosen lebih cenderung ia lepaskan ketia beliau terpilih menjadi ketua umum Persis, agar lebih terfokus dalam memimpin Persis.

Catatan keorganisasian di atas meneguhkan kuatnya leadership dalam diri Ustadz Shiddiq. Beliau memiliki jejak karir yang kuat dalam kepemimpinan. Pengalamannya sangat luas dalam urusan manajemen struktur keorganisasian. Ini bekal yang sangat berharga, sehingga beliau memiliki naluri yang kuat dalam kepemimpinan umat. Belaiu mampu mengoptimalkan potensi umat untuk diarahkan bagi kemajuan dakwah.

Pengalaman organisasi juga dapat membuat Ustadz Shiddiq bisa menggulirkan konsep dakwah yang tidak konvensional. Beliau menjalankan konsep dakwah yang professional dan modern. Manajemen keorganisasian diterapkan dengan baik, sehingga berhasil mengedepankan peran Persis sebagai sebuah organisasi yang mapan.

Satu hal yang tentu tidak disangsikan lagi, dan sekaligus menjadi trade mark Ustadz Shiddiq Amien, adalah aktifitas dakwahnya. Ia berdakwah di pelbagai tempat desa dan kota. Setiap ia tampil memberikan ceramah, bisa dipastikan mustami’ akan memenuhi tempat pengajian dan berdesak-desakan mebuat tempat pengajian terasa sempit. Uraian ceramahnya begitu menyentuh, sederhana tapi berbobot. Ia senantiasa memaparkan data dan fakta lapangan yang mungkin belum banyak diketahui orang.

Kiprah Ustadz Shiddiq di pendidikan “luar tradisi pesantren”, berbagai organisasi dan dakwah di lapangan, membuat beliau menjadi sosok yang padu. Tidak banyak sosok ulama yang memiliki perpaduan seperti itu. Sebagian ulama dibekali dengan pengetahuan keislaman yang kuat, tapi dalam hal wawasan umum acapkali lemah. Sementara sosok Ustadz Shiddiq justru dikenal sagat luas wawasannya, baik wawasan keindonesiaan maupun global.

Selain itu, ulama-ulama keislaman cuga cenderung tidakmemiliki akses networking yang luas. Mereka terjebak pada suatu komunitas tertentu dan tak mampu menyebarkan cakrawala dakwahnya. Ustadz Siddiq memiliki kesadaran yang tinggi untuk memperluas jaringan dakwahnya. Karenanya, beliau adalah pribadi yang berpengalaman di berbagai organisasi dan komunitas. Jaringan interaksi dan komunikasi beliau sangat lebar. Hal inilah yang menjadi salah satu sentral kesuksesan dakwahnya, pengelolaan Pesantren dan kepemimpinan Persis.

Terakhir, sulit juga menemukan ulama yang memiliki komitmen dan dedikasi untuk terjun langsung kelapangan dalam berdakwah. Sebagian hanya terbatas pada retorika diatas mimbar , sementara yang lain merasa lebih leluasa ketika berdakwah dengan tulisan saja. Ustadz Shiddiq adalah sosok yang sebaliknya. Dalam berdakwah, ia terjun langsung kelapangan. Hal ini membuatnya tahu betul kodisi riil umat dan permasalahan yang dihadapi, sehingga solusi yang ditawarkan Ustadz Shiddiq kepada umat sangat realistis dan aplikatif.

Beliau tidak ingin berjarak dengan umatnya. Beliau ingin sedekat mungkin dengan umat dan mendengar langsung keluh kesahnya. Pada saat yang sama, Ustadz Shiddiq tetap sebagai ulama yang aktif menggoreskan pena dakwahnya. Bahkan, ia tergolong sangat produktif dalam karya keilmuannya.

Berlimpah Karya

  Dakwahnya mengalir pula lewat tulisan. Tulisan Fikrah-nya di Majalah Risalah selalu dinantikan pembaca. Belum lagi makalah, buku, dan lain sebagainya. Kapasitasnya sebagai manajer tak perlu ditanyakan lagi. Semua stafnya memujinya sebagai manajer berhati lembut. Ia pernah suatu ketika membersihkan meja seorang stafnya seraya berujar, “meja yang rapi bukan berarti tidak ada pekerjaan.”

Beliau pun sangat konsen dengan permasalahan umat yang berkaitan dengan ghazwul fikri (perang pemikiran). Keilmuannya meliputi segala bidang pengetahuan membuat kajian-kajiannya selalu menarik dan tidak membosakan. Sama sekali jauh dari sifat fanatisme golongan. Yang ia kedepankan adalah akidah ahlus sunnah dan prilaku salafus shaleh yang dapat dipercaya.

Selain itu, beliau pun terkenal sangat santun, ramah dan tidak gentar dengan siapapun. Ia tak sungkan menyupir kendaraannya sendiri padahal ada supir yang siap mengantarkannya kemana saja. Fatwa-fatwanya selalu didasari atas keputusan Dewan Hisbah yang senantiasa melalui pengkajian yang sangat serius dalam membahas permasalahan hukum. Hampir seluruh Negara di Timur-Tengah dan sebagian Negara Asia, pernah beliau kunjungi dalam safari dakwah maupun tugas kenegaraan atas undangan presiden.

Persis mengalami kemajuan pesat saat dipimpin Ustadz Shiddiq. Dari hanya memiliki 15 ribu anggota pada 1990 berangsur-angsur meningkat hingga 30 ribu anggota pada 2005 yang dipercaya menjadi Staf Ahli Mentri Sekertaris Negara, menyebutnya sebagai penerus tokoh-tokoh Persis yang mampu melanjutkan peralihan dari tradisi lama ke tradisi baru. Sentuhan tangannya membuat Persis yang awalnya terkesan ekslusif dan tertutup menjadi terbuka, toleran, dan adaftif terhadap segala permasalahn. Ia juga mampu menjadi jembatan pemahaman antara kalangan santri dan kaum akademis di lingkungan Persis.

H. Andi Sugandi, Bendahara Umum Persis (2005-2010), yang terkenal dekat dengan Ustadz Shiddiq menyebutnya sebagai sosok langka. Ustadz Shiddiq menyatukan dengan baik tradisi keulamaan dan keintelektualan sekaligus. Ia juga sangat demokratis karena sekecil apapun permasalahn ia selesaikan lewat musyawarah.

KH Syuhada Bahri, Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia (DDII), menyebutnya sebagai tokoh muda berpengetahuan luas. Akhlaknya yang baik menjadi modal berharga yang membuat dia dipercaya memimpin Persis. Tokoh islam Jawa Barat, KH Miftah Farid, menyebut Ustadz Shiddiq tidak hanya milik Persis tapi juga milik umat islam. Persis berhutang lagi untuk menciptakan lagi sosok sepertinya.

Aura kepribadiannya yang sangat bersahaja serta ilmu yang luas yang dimilikinya membuatnya banyak dikagumi jaaah. Ia senantiasa ingin jadi cermin akhlak Nabi Muhammad Saw, tak macam-macam, namun tetap tegas dan sederhana.

Ustadz Shiddiq memang sosok yang istimewa. Secara personal, kepribadian beliau cukup padu, sehingga melahirkan charisma tersendiri. Sementara secara intelektual, bekal ilmu beliau cukup dalam. Hal ini membuat beliau bijak dalam mengambil keputusan. Adapun sebagai seorang pemimpin, Ustadz Shiddiq adalah manajer yang ulung. Beliau tahu pentingnya arti sebuah profesionalitas.

Dengan perpaduan ketiga bekal diatas, tak heran jika dibawah kepemimpinannya, Persis mengalami kemajuan yang pesat, baik secara kuantitas maupun secara kualitas. Beliau adalah tokoh yang sukses mengantarkan Persis melewati sebuah proses metamorphosis menjadi sebuah organisasi yang modern dan professional, dalam hal pengelolaan dan keorganisasian. Ini merupakan capaian yang gemilang. Sebuah langkah maju yang cemerlang.

Nama Ustadz Shiddiq akan dicatat sebagai salah satu pemimpin Persis yang mencapai sukses besar. Beliau juga akan dicatat sebagai pemimpin umat islam yang sangat dikagumi. Namanya akan terus dikenang, bukan saja dilingkungan internal Persis, tapi juga Indonesia secara umum. Beliau adalah sosok yang jasa-jasa dan perannya melintas batas keorganisasian.

Saat ribuan jamaah melayat dan mengantri dengan wajan sendu di hari wafatnya 31 Oktober 2009 lalu, tampak benar bahwa Ustadz Shiddiq merupakan tokoh yang berarti. Terbayang semua ucapan hikmah di mulutnya, serta semangat memajukan Islam dan Persis. Membuat dada penuh dan mata berkaca-kaca karena hati takut tak akan lagi bisa menemui sosok yang sepadan dengannya

Kiyai muda yang energik ini menjadi pimpinan Persis paling muda usianya dibanding pimimpinan Persis sebelumnya, beliau mempunyai pemikiran tentang Persis bagaimana sebelumnya dituangkan dalam makalah “PERSIS SEBAGAI JAM’IYAH PENDIDIKAN DAN DAKWAH MENUJU INDONESIA BARU”, sebagai berikut:
“Persis sejak didirikan tahun 1923 telah banyak atsar jihadnya terutama dalam memberikan shibghah dan format terhadap akidah, ibadah, dan akhlak ummat. Meski secara institusional atau kammiyah masih relative kecil dan sedikit. Hal ini mungkin tidak terlepas dari pola pendekatan dakwah yang terkesan repsesip, sebagai upaya melakukan shock teraphy terhadap kejumudan ummat. Disamping itu falsafah yang dikembangkan antara lain “Tidak perlu banyak, biar sedikit tapi berkualitas”.
Selain itu persoalan akidah dan ibadah yang menjadi focus dakwah merupakan persoalan yang amat sensitive, sehingga sering mengundang reaksi yang cukup dahsyat”,
Dari pemikiran beliau dapat disimpulkan bahwa Persis dan ummatnya itu harus:
A. Mensibghah (mencelup) segala gerak langkah kehidupannya dengan alqur’an dan as-sunnah
B. Dakwah merupakan kewajiban seluruh ummat manusia termasuk anggota Persis, tetapi harus mencari metoda yang tepat supaya ajaran islam dapat diterima secara kaffah.
C. Tidak boleh merasa gentar dan lemah tatkala meyampaikan kebenaran dari allah Swt.

Dipublikasi di PERSIS (persatuan islam) | Meninggalkan komentar

pengenalan ormas PERSIS

bismillahirrahmanirrahim
saya selaku santri dari pesantren persatuan islam no 50 lembang akan memperkenalkan kepada semuanya apasih ormas PERSIS itu menurut Shiddiq Aminullah:
Bismillahirrahmanirrahim.
Persatuan Islam lahir bermula dari sebuah kelompok diskusi yang concern terhadap kondisi Islam dan muslimin waktu itu. Saat itu, situasi kejumudan berpikir tentang masalah-masalah keislaman terbelenggu kuat oleh doktrin “pintu jihad telah tertutup” dan “wajib bermazhab”. Kondisi ini melahirkan sikap taklid buta yang membawa implikasi semakin merajarelanya syirik, bid’ah, dan munkarat lainnya. Kondisi ini juga diperparah oleh kebijakan kolonial Belanda yang melakukan pemiskinan dan pembodohan umat islam, bagian terbesar bangsa ini. Pemiskinan itu dilakukan melalui monopoli ekonomi dan pembatasan akses umat ke dunia sosial-ekonomi. Pembodohan ini dilakukan melalui pembatasan kesempatan belajar, pemaksaan khutbah jum’at dengan menggunakan bahasa Arab, pelarangan penerjemahan dan penafsiran Alqur’an, dan pembatasan kebebasan kegiatan dakwah dan penerbitan buku-buku keislaman.
Kelompok diskusi yang kemudian melembaga menjadi kelompo jam’iyyah yang bergerak di bidang dakwah dan pendidikan itu diberi nama Persatuan Islam atau Persis. Kelompok diskusi ini juga menyadari benar bahwa jalan yang ditunjukan oleh Allah dan Rasul-Nya untuk tatbiqus-syari’ah atau mewujudkan masyarakat muslim yang mengamalkan ajaran islam dengan baik dan benar dalam segala aspek kehidupannya adalah jalan dakwah. Dakwah yang dimaksud dalam pengertian luas, tidak hanya bil-lisan, tetapi juga dengan bil-kitabah dan bil-lisani-hal melalui perbaikan kondisi sosial, ekonomi, pendidikan, seni dan budaya, serta jalur politik. Dengan memanfaatkan semua media dakwah yang ada dan makruf. Persis secara konsisten mengusung motto “ar-Ruju’ ila al-qur’an wa as- sunnah”. Tema dakwah yang banyak diusung pada awal kemunculannya, bahkan sampai sekarang, lebih banyak menyangkut masalah akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah. Padahal, masalah-masalah tersebut merupakan masalah-masalah yang sangat sensitive sehingga tidak jarang yang ditemukan dalam perjalanan dakwah bukanlah akseptasi dan adaptasi, merupakan sikap resistensi-konforatif yang sangat keras. Terlebih ketika Persis menggunakan pendekatan shock teraphy melalui gebrakan-gebrakan dan perdebatan dalam rangka mencairkan kejumudan. Karena langkah ini, banyak pihak member stigma kepada Persis sebagai harakah tafriq, gerakan yang memecah-belah persatuan umat. Bahkan ada yang menuding Persis adalah agama baru. Padahal, yang dilakukan Persis bukanlah tafriq, melainkan tazkiyah. Tarfiq itu memisahkan sesuatu yang semestinya tidak boleh terpisah, seperti memisahkan lengan dan kaki dari badan, sementara tazkiyah yaitu upaya membersihkan sesuatu yang memang semestinya dibersihkan. Gerakan ini bisa juga disebut atau diibaratkan sabun yang membersihkan daki atau kotoran dari badan.
Perlahan-lahan, tetapi pasti, atsar dakwah Persis telah banyak memberi sibghoh terhadap akidah, ibadah dan akhlak umat. Pengaruh dakwah Persis bukan hanya sudah melintasi batas kota dan propinsi, tetapi telah melintas batas Negara. Jadi dakwah yang dakwah yang “dijual” oleh Persis sudah go internasional.
Sejak tahun enam puluhan Persis telah mempunyai sebuah institusi yang bernama Majlis Ulama yang kemudian berganti nama menjadi Dewan Hisbah pada masa kepemimpinan K.H.E. Abdurrahman. Tetapi pemikiran para tokohnya tampak lebih menonjol, terutama pemikiran, al-Ustadz Ahmad Hassan, Bapak Muhammad Natsir, K.H Isa Ashary, dan K.H.E Abdurrahman, dibandingkan dengan pemikiran institusional atau ijtihad jama’i. Sejak masa kepemimpinan K.H Abdul Latif Muchtar. M.A., Dewan Hisbah ini sudah mulai diberdayakan fungsi-fungsinya. Berbagai masalah lama dan baru dibahas dan diambil istinbath-ahkamnya, tak terkecuali masalah-masalah aktual yang bermunculan seiring kemajuan di bidang ilmu, khususnya di bidang bioteknologi, seperti masalah bayi tabung, surrogate mother(rahim titipan), transeksual, transplantasi, euthanasia, klonning, urine sebagai obat, pengurusan jenazah AIDS, asuransi, pasar modal, bunga bank, wakaf uang, dan plazenta sebagai bahan kosmetika.
Sebagai buah dari gerakan dakwah yang dilakukan sebagai strog point dakwah, baik individual maupun institusional, termasuk di dalamnya Persis, telah lama di masyarakat muncul semangat dan keinginan untuk mengaplikasikan ajaran islam tidak hanya pada tataran kehidupan pribadi dan keluarga, tetapi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Hal itu telah terleflesikan dengan munculnya berbagai gerakan, baik yang berhalauan “keras” maupun “moderat”, baik yang melalui pendekat struktural maupun cultural. Keinginan dan semangat tersebut, tentu saja mendapat tantangan yang cukup keras, baik dari kalangan penguasa maupun kalangan islamphobia, bahkan dari kalangan muslim sendiri.
Secara objektif, kita dapat menyaksikan bahwa pada tataran konseptual, pemahaman sebagian masyarakat tentang syariat islampun masih relatif sempit. Di kalangan populis awam, banyak yang memahami bahwa syariat islam itu hanya sebatas rukun islam. Di kalangan elitis-intelektual, banyak yang memahaminya hanya sebatas hukum hudud dan qishash. Mereka, jika mendengar syariat islam yang terbayang dalam benak mereka hanyalah hukum potong tangan jika mencuri dan hukum razam bagi pezina. Sebuah pemahaman yang sangat tidak propesional. Meskipun begitu, kita juga patut bersyukur karena gradual bagian-bagian dan syari’at islam itu sudah diangkat menjadi undang-undang Negara, seperti UU perbankan syari’ah, UU perkawinan, UU perwakafan, UU haji, UU perzakatan, dan komplikasi Hukum Islam (meskipun baru sebatas keputusan presiden), telah lama menjadi pegangan hakim pengadialan Agama dalam memutuskan perkara yang terkait dengan perwakafan, perkawinan dan waris.
demikian menurut Ust.shiddiq Aminullah, semoga bermanfaat bagi kita semua aamiin.

Dipublikasi di PERSIS (persatuan islam) | Meninggalkan komentar

cerita seorang reporter indonesia

ini merupakan tadzkiroh untuk kita semua, seorang reporter asal indonesia menceritakan pengalaman dirinya ketika di palestina dan israel. di palestina beliau mewawancarai korban-korban kekejaman israel yang sangat biadab. pihak israel tidak memperhatikan apa saja yang ia tindas, orang yang manula, anak-anak, perempuan, serta rumah sakit habis di capluk. padahal dalam hukum internasional, hal tersebut di larang keras, inilah yang merupakan bentuk omongkosong pihak barat. jika saja negara islam yang melakukan hal seperti ini, tidak akan segan-segan pihak barat akan menghukum, mengucilkan negara tersebut.
kembali lagi pada kisah reporter tadi, ketika ia mendatangi pihak israel, ia pun teringat akan pohon gorgot yang diceritakan oleh rasul bahwa kelak ketika dajjal muncul di muka bumi, maka pohon tersebutlah yang akan melindungi orang-orang kafir. akan tetapi ketika ia menjumpai perumahan-perumahan israel, tidak ditemukan di rumah-rumah tersebut berupa pohon. lalu dia mendatangi seorang pendeta yahudi dan menanyakan tentang pohon gorgot.
reporter: “wahai pendeta, dimanakah pohon gorgot itu?”.
pendeta: tidak ada jawaban
reporter:”wahai pendeta, dimanakah pohon gorgot itu?”.
pendeta: tidak ada jawaban
reporter:”wahai pendeta, dimanakah pohon gorgot itu?”.
pendeta:(dengan nada kesal) “anda berasal dari mana?”.
reporter: “saya berasal dari indonesia”
pendeta: “disanalah banyak pohon gorgot!”.
perlu kita renungi dari wawancara singkat tersebut, mungkin saja yang akan melindungi orang-orang kafir itu adalah orang-orang yang sesat. banyak di indonesia yang terpengaruhi oleh kebudayaan satanis. ada berupa iluminati, dari kebudayaan musik, dan akhlak yang buruk yang merupakan propaganda orang orang penyembah setan. hati-hatilah terhadap kebudayaan satanis yang mampu menyesatkan banyak orang, kecuali orang-orang yang kuat imannya. semoga allah melindungi kita semua dari apa yang akan menyesatkan kita. aamiin ya allah ya rabbal ‘aalamiin.

Dipublikasi di Dakwah, do'a dan dzikir | Meninggalkan komentar

The Diary of a Midwife: Recognizing an Invisible Woman of the Past

The Bookshelf of Emily J.

I’ve been wanting to read Pulitzer Prize–winning book A Midwife’s Tale: The Life of Martha Ballard, Based on Her Diary 1785-1812 (1990) by Laurel Thatcher Ulrich for years.  Ulrich has been a sort of role model/celebrity to me because of her achievements with this book, but also for her life.  She is a member of my church, so I know she comes from the same frame of reference that I do, which brings with it a lot of complex cultural and religious ideologies that I will skip outlining for you today.  She’s also a feminist and the mother of five children (I believe), whom she raised while working on her Ph.D.  She spent the first decade of her career teaching at a university in New Hampshire.  Then she won the Pulitzer Prize.  Now she’s a professor of history at Harvard.  Not too shabby.

She’s also known for the phrase…

Lihat pos aslinya 1.360 kata lagi

Dipublikasi di Karya tulis ilmiah | Meninggalkan komentar